October 05, 2021

Eksklusif Interview Bersama dengan Team Bocuse d’Or Indonesia

Gilles Marx, Chris Salans, Mandif Warokka, dan Lutfi Nugraha adalah beberapa chef berprestasi yang membawakan keahlian dan inovasi puluhan tahun ke dalam kekayaan dunia kuliner Indonesia. Keempat chef ini juga turut aktif dalam memperkenalkan cita rasa Indonesia yang unik kepada khalayak internasional melalui kehadiran restoran yang mereka miliki dan tempati, serta di kompetisi memasak bergengsi dunia, Bocuse d’Or, yang dilaksanakan di Lyon.

Dipimpin oleh Chef Gilles sebagai president team dan Chef Chris sebagai pelatih, chef Mandif dan Lutfi turun ke lapangan untuk bertanding dengan puluhan kompetitor yang datang dari berbagai belahan dunia. Tim Tatler Indonesia mendapatkan akses khusus untuk mengetahui seperti apa persiapan mereka ketika masuk ke dalam final round dari kompetisi memasak Bocuse d’Or.

By Hesikios Kevin
All image by Bocuse d’Or INA Team

 

Apa yang kalian rasakan ketika berhasil masuk ke dalam final round kompetisi memasak Bocuse d’Or?

Gilles: Merupakan hal yang sangat menantang ketika kita berbicara mengenai kompetisi memasak berskala global. Beruntungnya, kami memiliki tim yang solid tahun ini bersama dengan chef Salans, chef Mandif, dan Chef Lutfi. Meskipun kami masih jauh untuk memenangkan kompetisi tersebut, kami akan terus berupaya membuka jalan untuk masa depan Indonesia dalam kontes memasak internasional ini.

Chris: Saya merasa terhormat karena ini pertama kalinya saya terpilih sebagai pelatih untuk tim Indonesia. Walaupun saya merasa senang karena dipercaya oleh tim Indonesia, saya juga merasakan kegugupan yang cukup besar karena saya tidak memiliki pengalaman sebagai pelatih, dimana hal tersebut menjadi tantangan terbesar bagi saya saat ini.

Mandif: Meskipun tingkat stresnya tinggi, saya merasa bersemangat untuk mengikuti kompetisi ini. Melalui banyak persiapan dan latihan yang intens, saya belajar bahwa kita perlu melampaui batas kreatif kita dan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi juara.

Lutfi: Selain lebih mengasah keterampilan memasak kami, kami juga belajar mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang ditemukan dalam setiap latihan dan memperbaikinya.

 

 

Sebagai chef yang bertanding di stage, bolehkah kalian menceritakan bagaimana mengubah stres dan tekanan menjadi sebuah kekuatan?

Mandif: Dengan berkumpulnya berbagai chef kuat yang bersaing bersama dalam satu tempat, orang-orang yang menonton Bocuse d’Or tentunya bisa membayangkan bagaimana luar biasanya tekanan yang kami terima selama berkompetisi. Tetapi, kepercayaan diri saya meningkat seiring berjalannya waktu ketika kami melihat kerja keras kami menghasilkan berbagai hidangan terindah yang pernah dibuat sepanjang sejarah kamii. Hal inilah yang memberikan saya motivasi dan kekuatan untuk terus menciptakan hidangan yang lebih indah kedepannya.

Lutfi: Saya mungkin berbohong jika saya mengatakan tidak ada stres sama sekali karena ini adalah pertama kalinya Indonesia berkompetisi kembali di acara Bocuse d’Or setelah sepuluh tahun lamanya. Dalam kasus saya, melatih mindfulness dan berfikir tenang selama pelatihan membantu saya mengatasi stres dan kecemasan. Saya harus mengubah tekanan tersebut menjadi energi positif untuk membantu saya tetap fokus memasak bersama dengan chef Mandif.

 

 

Melihat dari sudut pandang sebagai pelatih dan presiden tim Indonesia, apa saja yang diperlukan untuk memenangkan kompetisi?

Gilles: Menurut saya, untuk memenangkan kompetisi internasional dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi tidak terjadi dalam satu kesempatan. Untuk bisa menang, anda membutuhkan komitmen tingkat tinggi, kerja sama tim yang hebat, dan persiapan yang matang—baik dari kompetensi memasak itu sendiri maupun hal-hal lain. Kami juga perlu untuk terus memupuk mentalitas juara melalui latihan yang banyak dan konsisten untuk kompetisi Bocuse d’Or berikutnya.

Chris: Menurut saya, dengan lolosnya Indonesia menuju ke babak final Bocuse d’Or telah menjadi tonggak penting yang telah kami capai sejauh ini setelah satu dekade vakum. Saat ini, Indonesia adalah salah satu dari 24 negara teratas yang diundang ke Bocuse d’Or di antara 195 negara lainnya. Namun, untuk bisa mencapai puncak tentunya membutuhkan banyak pekerjaan, perencanaan, pengujian dan latihan dalam waktu yang tidak sebentar. Kompetisi tersebut adalah tentang kesempurnaan, jadi Anda perlu menciptakan sesuatu yang belum pernah dilihat oleh seseorang sebelumnya.

Share :