December 17, 2020

Exclusive Interview Dion Wiyoko: Antara Film dan Fotografi

Bagi para pecinta film Tanah Air, nama Dion Wiyoko pastinya sudah tak asing lagi. Aktor kelahiran Surabaya ini pertama kali memulai karirnya di dunia modelling pada 2003 yang sekaligus memberinya kesempatan mengikuti berbagai casting iklan, sinetron hingga film layar lebar.

By Diella Yasmin
All image by Dion Wiyoko

Lebih dari satu dekade berkarir di dunia perfilman Indonesia, kesuksesan yang Dion capai tak didapatkan secara instan. Perjalanan penuh hambatan dan rintangan mewarnai karirnya.

Pada wawancara eksklusif bersama Tatler, Dion Wiyoko berbagi cerita mengenai perjuangannya di dunia perfilman Indonesia, ketertarikannya pada fotografi dan traveling serta berbagai rencana menarik yang ingin ia wujudkan ke depannya. Berikut petikannya.

Hi Dion apa kabar? Sedang sibuk apa belakangan ini?

Hi Tatler. Belakangan ini pekerjaan saya masih berhubungan dengan digital dan beberapa kali juga bekerjasama dengan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparenkraf) untuk mensosialisasikan penerapan protokol berwisata.

Belakangan ini kamu juga menyempatkan diri untuk syuting di luar kota. Bagaimana rasanya syuting di tengah pandemi?

Pastinya sempat khawatir dan takut, tapi setelah dijalani ternyata ada beberapa kota di Indonesia yang cukup siap dalam menerapkan protokol kesehatan dan memang tugas saya juga untuk mensosialisasikan kampanye tersebut. Sejauh ini memang aman-aman saja dan beberapa bulan ini saya juga rajin serology dan swab test. Pastinya hal tersebut harus dilakukan untuk menjaga diri terutama saat bekerja dan berwisata.

Bisa ceritakan perjalanan kamu menjadi seorang aktor? Bagaimana awal mulanya masuk ke dunia seni peran?

Karir saya di dunia entertainment berawal pada 2003 ketika saya memenangkan kompetisi modeling. Hal tersebut membukakan pintu dan kesempatan bagi saya untuk menandatangani kontrak dengan agen berbakat yang memberikan akses ke berbagai casting iklan TV, sinetron dan film layar lebar. Namun sebenarnya, tahun-tahun tersebut merupakan masa-masa penuh perjuangan bagi saya. Memenangkan kompetisi tidak berarti segalanya menjadi lebih mudah. Nyatanya, itu baru permulaan. Saya pernah mencoba berbagai casting dan sempat ditolak beberapa kali. Keadaan tersebut berlangsung sekitar lima tahun, meski untungnya saya masih bisa membiayai pendidikan.

Dengan pengalaman kamu yang lebih dari satu dekade di dunia seni peran, apa kelemahan kamu dan bagaimana kamu menyemangati diri kamu untuk menjadi seorang aktor yang lebih baik lagi?

Sejujurnya kelemahan saya dalam berakting adalah ketika saya harus menangis. Namun, saya belajar di dalam akting kita harus senatural menghidupkan karakter di dalam cerita. Jadi menurut saya berlatih dan konsistensi itu sangat penting. Selain itu, jam terbang juga sangat diperlukan untuk dapat memahami dan mendalami peran. Untuk itu saya selalu berusaha terus belajar memahami cerita, karakter serta lawan main yang bekerja bersama saya.

Hal apa aja yang kamu pelajari dari berbagai sutradara atau lawan main yang pernah bekerja dengan kamu?

Saya mendapatkan banyak pelajaran dari aktor-aktor senior seperti Mas Lukman Sardi dan juga aktor muda muda seperti Reza Rahardian yang pengalamannya di dunia seni peran sudah sangat established. Selain itu saya juga belajar banyak dari berbagai sutradara seperti Mas Hanung Bramantyo, Mas Fajar Nugros dan sutradara muda lainnya seperti Yandy Laurens dan Ernest Prakasa, karena sangat penting untuk membangun kerjasama yang efektif untuk menghasilkan sebuah karya film yang berkualitas.

Selain berakting, kamu juga memiliki ketertarikan di bidang fotografi. Sejak kapan kamu tertarik untuk mendalaminya?

Sejak 2011 saya mulai membangun ketertarikan dengan fotografi karena saya juga hobi sekali travelling. Awalnya mulai dari handphone, tapi lama kelamaan saya tertarik untuk mengasah skill dan kualitas dengan membeli kamera profesional. Namun, dalam pembelajaran ini saya juga melalui berbagai proses. Mulai dari membeli kamera pocket, mirrorless hingga full frame. Thanks to Instagram dan teknologi yang semakin maju, saya banyak sekali belajar menghasilkan foto berkualitas. Puji Tuhan, hobi saya ini juga memberi kesempatan bekerjasama dengan brand kamera, sehingga saya mendapat dukungan lebih untuk mengasah skill dan memiliki camera gear.

Apa rencana kamu ke depan? Apakah ada projek baru atau goals baru yang ingin direalisasikan?

Tahun lalu di bulan April, saya sempat mengunjungi Antartika untuk photo trip yang nantinya akan dijadikan pameran foto. Tapi karena pandemi, rencana tersebut terpaksa harus ditunda. Jadi untuk next-nya, saya ingin merealisasikan rencana tersebut. Selain itu, saya juga berharap jika di tahun depan saya dapat kembali travelling dan syuting bersama dengan teman-teman.

Share :