September 24, 2020

Legendary Eatery Series: Heritage by Tan Goei

Sejak awal dibangunnya daerah Menteng sebagai area pemukiman pada tahun 1910, daerah tersebut memiliki sejarah yang kaya akan tradisi kuliner di mana kebudayaan Indonesia dan Tionghoa berpadu dengan pengaruh Belanda. Di antara tempat makan menjadi favorit banyak orang, terdapat Heritage by Tan Goei, yang pertama didirikan sebagai toko kue dan kemudian berkembang menjadi restoran pada tahun 1950an. Tan Goei didirikan oleh Boedhi Tjahjono di Semarang, Jawa Tengah sebelum membentangkan sayap ke Jakarta dan mengubah namanya menjadi Miranda akibat kebijakan era Orde Baru yang melarang penggunaan nama Tionghoa. “Tan adalah marga dari keluarga kakek saya sementara Goei adalah marga dari keluarga nenek saya,” ucap Albert Boedhi Tjahjono, chef sekaligus pemilik generasi ketiga Heritage. “Setelah kebakaran pada tahun 2015, saya membuka kembali restoran ini pada tahun 2017 dan mengubah namanya menjadi Tan Goei sebagai penghormatan atas kakek saya.”

Albert Boedhi Tjahjono, chef & owner generasi ketiga Heritage

Menjadi sebuah hidden gem di daerah pinggiran Menteng, Miranda selalu dikerumuni pengunjung yang ingin menikmati suasana nostalgia dengan interior modern setiap harinya. Meskipun tren kuliner di Jakarta selalu berubah, pengunjung tetap dapat menikmati hidangan klasik Indonesia-Belanda di Heritage yang populer pada masanya. Salah satu hidangan paling diminati di sini adalah yang dihidangkan di atas hotplate dengan potongan-potongan lidah sapi yang melimpah dan sayuran dengan saus gurih. Tidak heran, hidangan ini tetap dapat bertahan melewati berbagai generasi. “Pelanggan setia kami kebanyakan adalah karyawan kantoran pada siang hari dan keluarga pada sore hari,” sebut Tjahjono. “Aktor, penyanyi, politisi, dan duta besar juga sering makan di sini.”

 

Bistik Lidah Sapi

 

Saat pandemi Covid-19, Tjahjono dan timnya dengan cepat memikirkan strategi untuk menghindari penurunan pendapatan yang signifikan dan agar bisnis tetap dapat berjalan. Saat pemerintah memberlakukan PSBB, Heritage menutup restorannya untuk sementara dan beralih ke bisnis food delivery. “Kami masih menjalankan layanan antar ke rumah selain membatasi jumlah pengunjung yang makan di tempat,” ujarnya. “Kami juga meluncurkan jasa catering untuk anak bagi mereka yang tidak sempat memasak di rumah,” lanjutnya. Tjahjono, yang mewarisi bakat memasak dari kakeknya, yakin bahwa ekonomi akan membaik dan berencana untuk membuka bisnis kuliner lagi setelah pandemi berakhir. “Kami berencana membuka cabang di Jakarta Selatan pada akhir September,” ujarnya dengan sumringah. “Berbeda dari Heritage, tempat baru kami akan menyajikan menu cepat saji dan fokus pada pesanan takeaway dan delivery untuk mengikuti protokol kesehatan.”

 

Ambience restoran Heritage

Written by Hesikios Kevin
Translated by Aditya N.
Photography by Heri B. Heryanto.
Source: Tatler Indonesia September Issue 2020
Share :