August 16, 2021

Mien R. Uno: Berkarya untuk Bangsa

Siapa yang tak mengenal Mien R. Uno. Tokoh perempuan yang konsisten dalam berbagi ilmu dan memajukan pendidikan di tanah air ini, dikenal sebagai pribadi hangat, berpikiran positif dan selalu menginspirasi.

by Hesikios Kevin
Photography by Heri B.

 

 

Di usia yang terus bertambah, jejak pengabdian Mien Uno tak lekang ditelan zaman. Ia kini menjabat sebagai Komisaris Lembaga Pendidikan Duta Bangsa dan juga memimpin Mien R. Uno Foundation (MRUF). Meski usianya telah menginjak 80 tahun, kegiatannya tak pernah berhenti. Sepanjang hidupnya, ia terus berpikir, bergerak membuat inovasi, terobosan dan beragam aktivitas  di bidang pendidikan, budaya, nilai-nilai etika dan pengembangan diri,  juga berkontribusi dalam memajukan perekonomian Indonesia melalui usaha dagang bekerja sama dengan  desainer batik Bagong Kussudiardjo pada tahun 1975.

Dengan banyaknya pengalaman, ia pun tak lupa berbagi pengetahuan melalui ragam buku yang ia tulis seperti “Cermin Diri I” (1990), “Cermin Diri II” (1996), “Citra Cinta Untuk Bu Mien” dan “Dari Kolonian ke Milenial” yang baru saja diterbitkan tahun ini. Kecintaannya terhadap wastra tradisional juga ia tuangkan melalui buku “Kebayaku” yang diterbitkan pada 2014 lalu.

Sebagai tokoh yang menginspirasi, ada banyak hal yang bisa selalu kita pelajari darinya. Pada wawancara eksklusif kali ini, Mien R. Uno berbagi tentang bagaimana ia mengarungi kehidupan penuh semangat positif dan mengapa pengalaman hidupnya bisa menjadi mata air inspirasi bagi para generasi muda. Berikut ulasannya.

 

 

Hal apa yang mendasari Ibu Mien meluncurkan dua buku sekaligus di usia yang ke- 80 tahun ini?

Banyak orang menanyakan  mengapa penerbitan buku menjadi salah satu bentuk syukur atas ulang tahun saya yang ke-80. Menurut saya, buku dapat menjadi sesuatu yang bisa kita kenang, bisa dibagikan, menginspirasi, serta menjadi salah satu literasi yang dibutuhkan seseorang untuk mengembangkan diri. Perkembangan seseorang bisa dilihat dari tiga hal; Behavior – perilaku, Brain – IQ – kecerdasan, literasinya, Be Healthy – kesehatan, kewarasan diri. Melalui buku, seseorang bisa mendapatkan inspirasi untuk mereka berkarya serta memperluas wawasan literasi. Buku menjadi medium terbaik untuk pegangan hidup, karena membuat seseorang mampu melihat ke depan sekaligus memahami berbagai pengalaman hidup seseorang di masa lampau, yang bisa dipelajari dan diterapkan pada masa kini. Menjadikannya sebuah legacy atau warisan berharga.

Bisa diceritakan bagaimana proses pembuatan kedua buku ini?

Semua dimulai ketika saya berpikir untuk meninggalkan  warisan yang sekiranya bisa dilihat sebagai bagian dari jejak kehidupan. Kemudian saya merasakan,  buku adalah wujud rasa syukur yang tepat bila saya telah mencapai umur 80 tahun. Karena itulah pembuatan buku ini kurang lebih memakan waktu persiapan sekitar dua tahun.

Kedua buku ini mempresentasikan kilas balik kehidupan dan bagaimana saya menjalin networking dan silahturahmi dengan lingkungan sekitar —seperti apa kontribusi saya dengan lingkungan dan apa yang mereka rasakan saat bersama dengan saya. Dalam proses pembuatan buku ini, saya merasa beruntung karena memiliki tim yang kuat. Apa yang saya ungkapkan dan ceritakan dapat dipahami dan diterjemahkan dengan sangat baik, sesuai dengan apa yang saya harapkan.

Bertepatan dengan hari ulang tahun Ibu yang ke-80, dua buku diluncurkan sebagai wujud rasa syukur. Bisa diceritakan  mengenai salah satu buku Ibu, “Citra Cinta Untuk Bu Mien”? Apa hal menarik yang bisa kami pelajari?

Buku ini merupakan hadiah istimewa untuk mensyukuri ulang tahun yang ke-80. Di dalamnya ada berbagai cerita dari rekan, sahabat dan keluarga terdekat mengenai momen-momen istimewa mereka bersama saya – mulai dari perkenalan pertama kali hingga hari ini.

Buku ini juga secara jujur membagikan pendapat mereka mengenai berbagai cuplikan karakter, kepribadian, kebiasaan, prinsip dan nilai-nilai filosofis yang menjadi jati diri saya.

Satu hal yang ingin saya bagikan melalui buku ini adalah persahabatan tidak bisa direkayasa. Pertemanan bukan untuk mengambil keuntungan, namun untuk berbagi kebahagian dalam suka dan duka. Bila ke depannya memang menghasilkan sesuatu, baik keuntungan dalam bisnis ataupun hal lain, hal itu dianggap sebagai bonus.

Pengalaman yang membekas di hati  adalah, mereka selalu mengingat saya dalam momen-momen kesedihan. Ketika dalam situasi seperti berkabung, ataupun saat mereka sedang sakit, saya selalu mencoba untuk menemani mereka semampu saya. Salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika ibu kandung Millie Stephanie Lukito, mendiang Maria Lukito meninggalkan kita semua. Saya menjadi salah satu orang yang turut menemani proses berkabung dari awal hingga selesai. Maria merupakan sosok sahabat yang sangat saya sayangi dan apa yang saya lakukan memang murni sebagai sahabat yang merasa kehilangan. Ternyata, banyak orang merasakan, bahwa kehadiran saya di sana karena rasa peduli, bukan karena ada keinginan lain. Bagi saya, ketulusan merupakan kunci untuk mempertahankan jalinan persahabatan dimanapun dan kapanpun.

 

 

Bagaimana cara Ibu menjaga silaturahmi dan hubungan baik dengan sesama teman, sahabat, dan rekan kerja?

Untuk menjaga silahturahmi dan hubungan baik, hal yang harus kita perhatikan adalah terjalinnya mutual feeling antar sesama. Persahabatan itu merupakan proses kehidupan dan hal tersebut tak bisa dilakukan secara instan. Bila diibaratkan sebagai tanaman, untuk membuatnya tumbuh dengan baik tak cukup hanya diletakkan dalam pot saja. Tanaman tersebut butuh dipelajari, dipupuk dan disirami untuk membuatnya bisa tumbuh berkembang indah. Sama halnya dengan manusia, kita tak hanya harus mengetahui karakter tersebut, namun juga turut berinteraksi dengan mereka dan tetap keep in touch dalam waktu yang lama—tanpa harus memperhatikan seberapa tinggi jabatan seseorang saat itu. Jangan kita baik pada orang ketika kita butuh, karena hal itu sangat menyakitkan.

 

“Dari Kolinial ke Milenial” mengisahkan perjalanan hidup Ibu Mien selama 80 tahun mengarungi beragam zaman dengan tantangan dan persoalan yang berbeda. Bolehkah Ibu membagikan salah satu pengalaman terberat yang pernah dialami dan bagaimana  mengatasinya?

 

Kehidupan perkawinan menurut saya adalah satu hal yang harus dipelihara seumur hidup, terlebih bila kita menikah dengan orang yang sangat berbeda. Perkawinan tentunya bukan merupakan hal yang mudah. Untuk bisa menjaga kualitas pernikahan itu sendiri, kita membutuhkan landasan ataupun garis-garis besar haluan berkeluarga sebagai pegangan menjalaninya.

Mengarungi sebuah pernikahan tentunya memiliki tantangan tersendiri. Karena semulus-mulusnya jalan yang ditempuh, kita masih bisa merasakan berbagai lubang ataupun jalanan berlubang dan tidak rata. Di situ tugas kita untuk membuat bagaimana jalan berlubang tersebut, tetap bisa kita lalui secara mulus. Saat menikah, saya dan suami berjanji seberat apapun tantangan yang kita hadapi, tak boleh ada kata cerai, ataupun terdengar sampai keluar dari empat dinding kamar. Tidak hanya itu, anak-anak pun saya jaga agar tidak terlibat bila ada perselisihan untuk menjaga kekompakan keluarga kami. Hingga detik ini pun, saya masih tetap belajar untuk bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain.

Karena itu kesepakatan antara satu dengan yang lain menjadi kunci untuk mempertahankan keharmonisan keluarga. Salah satu contohnya adalah ketika Pak Uno sedang berbicara, maka saya akan mendengarkan dan sebaliknya.  Walaupun ketika kita berpasangan dengan orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda, tapi saya yakin  perbedaan tersebut justru bisa mendekatkan satu dengan yang lain, selagi kita bisa memegang teguh aturan tersebut.

Sebagai ibu yang telah menjalani berbagai profesi, anak menjadi buah hati yang harus diurus oleh orang tuanya sendiri. Bagi saya, segala urusan yang terkait dengan anak harus ditangani sendiri dan bukan oleh orang lain, walaupun orang tersebut masih menjadi bagian dari keluarga besar kita. Tidak hanya itu, kita pun harus mengetahui sampai mana batasan saat mengurus anak. Jangan sampai anak merasa tak nyaman, bahkan sampai malah menghambat tumbuh kembangnya karena kita memperlakukan mereka layaknya anak kecil. Ketika anak kian tumbuh besar, sebagai orang tua harus bisa memilah, mana hal yang bisa kita bantu, dan mana hal yang harus dikerjakan anak itu sendiri. Salah satu hal terpenting yang harus dikembangkan kepada anak adalah semangat kemandirian atau percaya diri sehingga mereka akan memiliki kedawasaan dan rasa tanggung jawab yang tinggi.

Share :