December 10, 2020

Sudah Nonton Diam & Dengarkan? Yuk Baca Exclusive Interview dengan Naratornya!

Film “Diam dan Dengarkan” menjadi salah satu film dokumenter yang mengemas berbagai permasalahan dunia yang dihadapi dengan sentuhan yang apik serta edukatif. Kali ini 4 narrator dari “Diam & Dengarkan” membagikan cerita serta hal-hal inspiratif yang mereka dapat dari film ini.

by Hesikios Kevin & Aditya N.
Image by @nadinealexandra @arifinputra_ @dennisadhiswara @christinehakim

 

 

Bagaimana sih awal mula bisa terlibat dalam pembuatan film ini sebagai narrator?

Nadine: Waktu itu saya dihubungi oleh Helga Angelina, Founder Burgreens dan diajak untuk berkolaborasi dengan Anatman Pictures untuk proyek dokumenter di tengah pandemi dalam seri “Heal The World.” Tanpa pikir panjang, saya langsung tertarik untuk terlibat dalam proyek tersebut. Dalam keadaan pandemi seperti ini saya ingin sekali ikut berkreasi melakukan berbagai hal positif dan inspiratif. Setelah itu saya dihubungi oleh Mas Mahatma Putra untuk mendiskusikan proyek tersebut dan ketika melihat script-nya, saya merasa bahwa proyek ini sangat dalam dan bermanfaat sekali.

Arifin: Saya merasa topik yang diangkat di film ini sangat dekat dengan hati saya, apalagi judulnya “Diam dan Dengarkan.” Saat ini kita terlalu disibukan dengan segala hal yang terjadi di dunia maya sehingga kita memiliki sedikit kepedulian terhadap segala hal yang terjadi di dunia dan juga di sekeliling kita. Sebelum bergabung dengan WWF, saya juga memiliki kegelisahan mengenai keadaan alam kita dan semakin kesini saya belajar untuk diam dan mendengarkan kata hati tentang peranan dan potensi seperti apa yang saya miliki dan apa saja yang dapat saya lakukan. Dengan berpartisipasi di film ini sebagai narator, saya sudah melakukan langkah awal untuk membuat perubahan.

Dennis: Kebetulan saya memang berteman baik dengan Mas Mahatma Putra, selaku sutradara dan founder Anatman Studio. Kami sering berkolaborasi pada beberapa peroyek dan secara pribadi saya sangat mengagumi hasil karyanya. Setiap karya yang dihasilkannya selalu membawa impact dan vitamin untuk otak kita. Begitu saya melihat topik yang akan saya narasikan, saya pun langsung tertarik untuk bergabung pada proyek ini. Topik mengenai alam dan lingkungan memang selalu menarik untuk dibahas. Dengan begitu saya juga dapat turut memberikan edukasi saat mendiskusikannya dengan orang lain.

Christine: Sebelumnya, saya sudah pernah menjadi narator untuk sebuah film dokumenter bertema lingkungan garapan Amerika Serikat. Pada film tersebut, saya menjadi narator untuk versi Bahasa Indonesia, sementara versi bahasa aslinya diisi oleh Julia Roberts. Pada dasarnya, kita semua memiliki keprihatinan terhadap isu lingkungan. Termasuk saya. Jadi, ketika saya dihubungi, tanpa pikir panjang saya langsung menerima tawaran tersebut. Tidak lama setelahnya, saya dikirimi naskahnya dan melakukan take di rumah saya.

 

 

Outcome apa yang Anda harapkan bisa dicapai dari dirilisnya dokumenter ini?

 

Nadine: Sejujurnya, saat awal masuk ke dalam proyek ini saya belum memiliki ekspektasi apapun mengenai hasilnya. Ini beranjak murni dari ketertarikan saya sendiri dan salah satu passion project saya juga. Dengan pengambilan suara yang simpel melalui zoom dan team yang sangat passionate, ternyata impact yang dihasilkan sangat besar, bahkan sampai saat ini sudah ada dua juta penonton di Youtube.

Arifin: Saya berharap melalui dokumenter ini, orang – orang yang meninton bisa terbuka hatinya untuk lebih peduli dengan alam dan meningkatkan kesadaran bahwa bumi kita saat ini sedang berada dalam masalah besar. Satu-satunya makhluk bumi yang mampu merubah keadaan menjadi lebih baik hanyalah kita, manusia. Selama ini mungkin kita berfikir bumi aman aman saja. Dalam sejarah terciptanya bumi, mahluk bumi sudah melewati 5 kejadian, mass extinction; dimana 70 hingga 75% spesies yang ada di bumi ini punah. Jangan sampai kita secara perlahan tidak sadar menuju mass extinction ke-6.

Dennis: Saya senang film ini bisa menjadi pencerahan dan pencetus bahan diskusi. Kita sudah terlalu lama terdistraksi dengan berbagai berita, rumor, serta gosip yang beredar di media sosial, entah itu dari bidang entertainment maupun politik. Mudah-mudahan melalui film ini kita bisa sejenak menanggalkan atribut tersebut dan kembali lagi mengingat bahwa kita adalah umat manusia sekaligus penghuni yang hidup di bumi ini sembari duduk bersama memikirkan apa yang bisa kita perbaiki dan meningkatkan kualitas bumi kita.

Christine: Kita harus selalu punya harapan. Setidaknya, kita bisa memperlambat proses kerusakan lingkungan yang diakibatkan manusia, agar anak cucu kita, generasi berikutnya, masih bisa menghuni planet ini. Kalau lingkungan tempat dimana kita hidup sudah rusak, kehidupan kita pun akan rusak. Jadi, saya sangat bersyukur ada sekelompok anak muda, yang di tengah pandemi seperti ini, masih bisa melakukan hal positif seperti membuat proyek film dokumenter ini.

 

 

 

Kalau bisa bicara ke diri Anda di masa lalu (5, 10, atau mungkin 20 tahun yang lalu), apa yang ingin Anda sampaikan? 

 

Nadine: Don’t take things for granted. Don’t take it for granted untuk travelling, bertemu saudara, teman, keluarga dan orang-orang yang kita sayangi secara langsung. Don’t waste your time karena di saat seperti ini kita tidak pernah tahu kapan situasi menjadi tidak kondusif ke depannya.

Arifin: Jangan keras kepala. Jangan terlalu fokus dan mempermasalahkan hal hal kecil. Lebih baik kita mulai untuk hidup menjadi lebih baik lagi karena kita tidak tahu sampai berapa lama kita bisa hidup di bumi ini. Mulai dari umur muda ini, lebih baik mencari tahu apa yang bisa membuat hidup kita dan orang-orang sekitar menjadi lebih berharga dan memberikan kontribusi untuk alam sekitar.

Dennis: Saya belajar bahwa perencanaan keuangan dan manajemen waktu adalah dua faktor untuk hidup dengan baik. Kamu selalu dapat menghasilkan lebih banyak uang, tetapi kamu tidak dapat mengembalikan waktu. Andai waktu bisa diputar kembali, saya berharap untuk bisa menginvestasikan uang dan waktu secara proporsional dan tidak termakan dengan hal-hal sepele seperti pacaran dan menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak terlalu bermanfaat. Terakhir, saya berharap untuk lebih mencintai diri sendiri dan meluangkan waktu untuk menghargai dan melindungi planet tercinta ini.

Christine: Hidup harus berdampingan dengan alam. Setiap ciptaan yang ada di muka bumi ini memiliki tempat dan perannya masing-masing, sehingga kita tidak bisa sembarangan membunuh atau merusak lingkungan hidup makhluk lain. Kita harus menjaga keseimbangan antara mengambil dari alam dan memelihara keberlangsungannya sebagai makhluk Tuhan yang diberikan akal.

 

 

 

Share :