Di pesisir Pantai Ekas di Lombok Timur, berdiri
Innit Lombok, sebuah resor yang mendefinisikan ulang arti kemewahan. Bukan
dalam bentuk gemerlap atau kemegahan, melainkan dalam kesederhanaan yang
autentik dan selaras dengan alam. Dari awal berdirinya, Innit Lombok dibangun
dengan keyakinan bahwa keberlanjutan bukanlah tren, melainkan fondasi utama.
“Lokasi kami di Pantai Ekas yang masih alami
membuat kami sadar bahwa resor harus hadir selaras dengan lingkungan, bukan
sebaliknya,” ujar Chef Matthew Angga, Resort Manager & Head Chef dari Innit
Lombok. “Karena itu, setiap keputusan yang kami buat, mulai dari desain,
operasional, hingga kolaborasi dengan komunitas, selalu mempertimbangkan
dampaknya terhadap alam dan masyarakat sekitar.”
Didesain oleh tiga arsitektur ternama di
Indonesia, yaitu Andra Matin, Gregorius Supie Yolodi, dan Maria Rosantina, gaya arsitektur Innit Lombok terinspirasi dari
rumah lumbung khas Lombok, dengan
material hasil local sourcing seperti
kayu, bambu, dan batu alam setempat. Desainnya disesuaikan dengan iklim tropis
agar resor memiliki pencahayaan alami dan sirkulasi udara yang baik, sehingga
mengurangi penggunaan energi buatan. Filosofinya sederhana, yaitu membangun
dengan menghormati alam yang sudah ada tanpa harus melakukan banyak intervensi,
karena less is more.
Langkah-langkah berkelanjutan juga diterapkan
secara konkret. Kawasan pantai dijaga tetap alami tanpa pembangunan berlebih,
sistem pengelolaan air dibuat efisien, dan penggunaan plastik sekali pakai
dihindari sepenuhnya. Innit Lombok juga aktif dalam konservasi ekosistem laut,
seperti melepas tukik bersama para tamu sebagai simbol komitmen menjaga
keberlanjutan lingkungan.
“Fokus kami adalah agar keindahan Ekas tetap
terjaga bukan hanya untuk tamu hari ini, tetapi juga generasi berikutnya,” ujar
Chef Matthew.
Keberlanjutan di Innit Lombok tidak hanya
berbicara tentang alam, tetapi juga tentang manusia. “Komunitas lokal adalah
bagian penting dari perjalanan kami,” ujar Chef Matthew. “Mayoritas staf
berasal dari desa sekitar, sehingga mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga
ikut menjaga lingkungan mereka sendiri.”
Selain itu, resor mendukung nelayan dan petani
setempat dengan membeli hasil bumi dan laut mereka secara langsung untuk
kebutuhan restoran. Sirkulasi ekonomi lokal pun tetap hidup, sekaligus
memperkuat rasa memiliki terhadap destinasi ini.
Filosofi farm-to-table
diwujudkan di restoran Anakampung, yang mengelola kebun organik sendiri dan
bekerja sama langsung dengan petani serta nelayan lokal. “Kami juga memiliki keramba lobster yang terletak tepat di
depan resor,” jelas Chef Matthew. “Tamu dapat mengunjungi dan memilih langsung
lobster yang kemudian dibakar secara tradisional dengan api unggun di tepi
pantai.”
Menu di Anakampung mencerminkan cita rasa alami
Lombok, namun dengan sentuhan elegan. Selain itu, konsep keberlanjutan juga
diterapkan dalam dapur melalui pengurangan food
waste, mulai dari small batch cooking,
penggunaan bahan sesuai musim, hingga pemanfaatan sisa bahan menjadi kaldu,
kompos, atau olahan baru seperti tepache
dari kulit nanas dan marmalade dari
sisa jeruk nipis.
“Semua limbah organik kami olah kembali menjadi
kompos untuk kebun organik di resor,” ujar Chef Matthew. “Kami juga melatih
staf agar memahami bahwa mengurangi sampah berarti menjaga ekonomi dan
lingkungan sekaligus.”
Tak hanya itu, Innit Lombok juga mengedukasi tamu
melalui pengalaman, bukan sekadar teori. Semua air mineral disajikan di dalam
botol kaca isi ulang, amenities dapat
di-refill, dan beberapa perlengkapan
kamar seperti sandal, cotton bud atau
sikat gigi hanya disediakan berdasarkan permintaan. Ini adalah langkah kecil
yang berarti besar dalam mengurangi limbah.
“Untuk penghematan energi, kami hanya mengganti
linen dan handuk setiap tiga hari,” jelas Chef Matthew. “Jika tamu ingin
menggantinya lebih cepat, cukup letakkan di lantai. Tapi jika masih bisa
digunakan, gantunglah kembali. Kami ingin tamu menjadi bagian dari perjalanan
keberlanjutan ini.”
Kesuksesan Innit Lombok menjadi pijakan bagi dua proyek berikutnya, yaitu Bridge Hotel dan Innit Residence. Bridge Hotel akan menghadirkan 26 kamar yang membentang di atas jembatan di antara dua bukit. Ini adalah simbol penghubung antara alam dan arsitektur modern. Sementara Innit Residence menawarkan 27 lahan eksklusif untuk hunian pribadi, dirancang dengan nilai yang sama, yaitu berkelanjutan, autentik, dan berpijak pada filosofi hidup yang menghormati alam.