Innit Lombok: When Sustainability Becomes the Language of Luxury

Kategori : kemewahan 15 Desember 2025

Di pesisir Pantai Ekas di Lombok Timur, berdiri Innit Lombok, sebuah resor yang mendefinisikan ulang arti kemewahan. Bukan dalam bentuk gemerlap atau kemegahan, melainkan dalam kesederhanaan yang autentik dan selaras dengan alam. Dari awal berdirinya, Innit Lombok dibangun dengan keyakinan bahwa keberlanjutan bukanlah tren, melainkan fondasi utama.

“Lokasi kami di Pantai Ekas yang masih alami membuat kami sadar bahwa resor harus hadir selaras dengan lingkungan, bukan sebaliknya,” ujar Chef Matthew Angga, Resort Manager & Head Chef dari Innit Lombok. “Karena itu, setiap keputusan yang kami buat, mulai dari desain, operasional, hingga kolaborasi dengan komunitas, selalu mempertimbangkan dampaknya terhadap alam dan masyarakat sekitar.”

Didesain oleh tiga arsitektur ternama di Indonesia, yaitu Andra Matin, Gregorius Supie Yolodi, dan Maria Rosantina, gaya arsitektur Innit Lombok terinspirasi dari rumah lumbung khas Lombok, dengan material hasil local sourcing seperti kayu, bambu, dan batu alam setempat. Desainnya disesuaikan dengan iklim tropis agar resor memiliki pencahayaan alami dan sirkulasi udara yang baik, sehingga mengurangi penggunaan energi buatan. Filosofinya sederhana, yaitu membangun dengan menghormati alam yang sudah ada tanpa harus melakukan banyak intervensi, karena less is more.

Langkah-langkah berkelanjutan juga diterapkan secara konkret. Kawasan pantai dijaga tetap alami tanpa pembangunan berlebih, sistem pengelolaan air dibuat efisien, dan penggunaan plastik sekali pakai dihindari sepenuhnya. Innit Lombok juga aktif dalam konservasi ekosistem laut, seperti melepas tukik bersama para tamu sebagai simbol komitmen menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Fokus kami adalah agar keindahan Ekas tetap terjaga bukan hanya untuk tamu hari ini, tetapi juga generasi berikutnya,” ujar Chef Matthew.

Keberlanjutan di Innit Lombok tidak hanya berbicara tentang alam, tetapi juga tentang manusia. “Komunitas lokal adalah bagian penting dari perjalanan kami,” ujar Chef Matthew. “Mayoritas staf berasal dari desa sekitar, sehingga mereka tidak hanya bekerja, tetapi juga ikut menjaga lingkungan mereka sendiri.”

Selain itu, resor mendukung nelayan dan petani setempat dengan membeli hasil bumi dan laut mereka secara langsung untuk kebutuhan restoran. Sirkulasi ekonomi lokal pun tetap hidup, sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap destinasi ini.

Farm-to-Table di Anakampung

Filosofi farm-to-table diwujudkan di restoran Anakampung, yang mengelola kebun organik sendiri dan bekerja sama langsung dengan petani serta nelayan lokal. “Kami juga memiliki keramba lobster yang terletak tepat di depan resor,” jelas Chef Matthew. “Tamu dapat mengunjungi dan memilih langsung lobster yang kemudian dibakar secara tradisional dengan api unggun di tepi pantai.”

Menu di Anakampung mencerminkan cita rasa alami Lombok, namun dengan sentuhan elegan. Selain itu, konsep keberlanjutan juga diterapkan dalam dapur melalui pengurangan food waste, mulai dari small batch cooking, penggunaan bahan sesuai musim, hingga pemanfaatan sisa bahan menjadi kaldu, kompos, atau olahan baru seperti tepache dari kulit nanas dan marmalade dari sisa jeruk nipis.

“Semua limbah organik kami olah kembali menjadi kompos untuk kebun organik di resor,” ujar Chef Matthew. “Kami juga melatih staf agar memahami bahwa mengurangi sampah berarti menjaga ekonomi dan lingkungan sekaligus.”

Tak hanya itu, Innit Lombok juga mengedukasi tamu melalui pengalaman, bukan sekadar teori. Semua air mineral disajikan di dalam botol kaca isi ulang, amenities dapat di-refill, dan beberapa perlengkapan kamar seperti sandal, cotton bud atau sikat gigi hanya disediakan berdasarkan permintaan. Ini adalah langkah kecil yang berarti besar dalam mengurangi limbah.

“Untuk penghematan energi, kami hanya mengganti linen dan handuk setiap tiga hari,” jelas Chef Matthew. “Jika tamu ingin menggantinya lebih cepat, cukup letakkan di lantai. Tapi jika masih bisa digunakan, gantunglah kembali. Kami ingin tamu menjadi bagian dari perjalanan keberlanjutan ini.”

Bridge Hotel & Innit Residence

Kesuksesan Innit Lombok menjadi pijakan bagi dua proyek berikutnya, yaitu Bridge Hotel dan Innit Residence. Bridge Hotel akan menghadirkan 26 kamar yang membentang di atas jembatan di antara dua bukit. Ini adalah simbol penghubung antara alam dan arsitektur modern. Sementara Innit Residence menawarkan 27 lahan eksklusif untuk hunian pribadi, dirancang dengan nilai yang sama, yaitu berkelanjutan, autentik, dan berpijak pada filosofi hidup yang menghormati alam.